BUDIDAYA CACING LUMBRICUS



PENDAHULUAN

   Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta dan hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing ini bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi, dan Lidrillus. Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakkan antara lain : Pheretima, Perionyx, dan Lumbricus. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih, jumlah segmen sekitar 27-32. Cacing jenis Lumbricus rubellus memiliki keunggulan lebih dibandingkan kedua jenis cacing yang lain diatas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan. produksi telur / anakan dan produksi bekas cacing "kascing" serta tidak banyak bergerak.


MANFAAT

   Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi lebih baik. Selain itu, cacing tanah dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak. Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.

PERSYARATAN LOKASI
  1. Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
  2. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati.
  3. Untukpertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau pH sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
  4. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah antara 15-30 %.
  5. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing dan penetasan kokon adalah kurang lebih 15-25 derajat celcius. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat celcius masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
  6. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya dibawah pohon rindang, ditepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Penyiapan Sarana dan Peralatan
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk, dan genteng tanah. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1.5 x 1.8 m. Di dalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Model-model sistem budidaya antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar.


Tempat budidaya cacing

Pembibitan
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.

   1. Pemilihan Bibit Calon Induk
Dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukkan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.

 2. Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara :
  • Pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran 2.5x1x0.3 m dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
  • Pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dapat dipindahkan ke bak lain.
  • Pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
  • Pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa dipindah ke bak lain.
  • Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacong tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukkan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakkan diatas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk kedalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan.
Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya, bila media tidak cocok cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikandapat dilakukan dengan cara disiram dengan air kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau kecoklatan).

PEMELIHARAAN

1. Pemberian Pakan
Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah ditanam. Misalnya yang ditanam 1 kg, maka pakan yang harus diberikan juga 1 kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :
  • Pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
  • Bubur pakan ditaburkan rata diatas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
  • Pakan ditutup dengan plastik, karung, atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
  • Pemberian pakan berikutnya apabila masih tersisa pakan terdahulu harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
  • Bubur pakan yang akan diberikab pada cacing tanah mempunyai perbandingan 1:1.
2. Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan atau ditumbuhkan pada media baru. Rata-rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 minggu.

PEMANENAN

   Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomass (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul dibagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya.
Ada cara panen lain yang lebih ekonomis, yaitu dengan cara membalikkan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan dipisahkan cacing yang tertinggal. Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru serta kascingnya siap dipanen.

BUDIDAYA CACING SUTERA / TUBIFEX

PENDAHULUAN

     Tubifex sp atau cacing sutera atau cacing merah atau cacing darah adalah sejenis cacing yang hidup di perairan sungai, danau banyak dimanfaatkan sebagai pakan ikan pada budidaya ikan konsumsi maupun budidaya ikan hias.

    Cacing sutera merupakan salah satu alternatif pakan alami yang dapat dipilih untuk memberi makan ikan yang anda pelihara, terutama pada saat fase larva hingga benih ataupun untuk ikan hias karena memiliki kandungan nutrisi yang baik dan cenderung seimbang dan sangat bagus untuk pertumbuhan ikan.

     Menurut Gilbert dan Granath (2003), Tubifex disebut juga cacing lumpur (sludge worm), cacing limbah (sewage worm), ular kapur (lime snake), karena dapat hidup dengan baik pada perairan yang banyak mengandung limbah dan endapan/sedimen lumpur organik bahkan dapat hidup pada perairan yang sangat tercemar bahan organik yang hampir tidak ada spesies lainnya dapat bertahan. Pembentukan kista pelindung dan penurunan aktifitas metabolisme merupakan strategi hidup Tubifex untuk dapat bertahan dalam kondisi kekeringan dan kekurangan makanan. Kebiasaan makan Tubifex adalah dengan cara mencerna sedimen dan memperoleh nutrisi dengan mencerna bakteri secara selektif dan menyerap molekul melalui dinding tubuh (Gilbert dan Granath 2003).

    Teknik budidaya cacing Tubifex ini sudah banyak diteliti (misalnya : Molah dan Ahamad, 1993), tetapi membutuhkan waktu satu bulan atau lebih untuk mendapatkan puncak populasi yang siap panen. Banyak dijual di toko ikan dan akuarium ikan hias sebagai makanan baik dalam hidup dan beku kering, atau dalam bentuk pellet. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa Tubifex biasanya sangat mudah mengkontaminasi wadah air dan dapat menjadi inang Myxobolus cerebralis, yang menyebabkan penyakit pada populasi ikan. Perawatan harus dilakukan ketika Tubifex digunakan sebagai pakan ikan pada akuarium.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

A. PERSIAPAN WADAH
     
Wadah pemeliharaan berupa kolam tanah kecil berukuran 1.5 x 1.5 m atau maksimum 10 x 10 m. Dasar kolam dikeringkan dan dibersihkan dari kotoran-kotoran. Bagian-bagian kolam yang bocor diperbaiki. Wadah tersebut harus mempunyai lubang pemasukan air di satu sisi dan lubang pengeluaran di sisi yang lain. Wadah diletakkan di tempat yang teduh. Pencangkulan dilakukan sampai dasar kolam, lalu digenangi atau diisi air sampai ketinggian 5 cm selama 2 hari.

B. PENYIAPAN MEDIA KULTUR

Media kultur cacing Tubifex berupa lumpur selokan setebal 5 cm yang dicampur rata dengan pupuk kandang sebanyak 100 g/m2 atau dedak sebanyak 200-250 g/m2, dapat pula digunakan kotoran kambing. Rendam media tersebut selama 3-4 hari.
Kotoran ayam atau kambing yang akan dipakai sebagai media harus dibersihkan dari bahan-bahan lain dan dijemur di bawah terik matahari selama 1 hari atau dalam kondisi kering. Dosis kotoran ayam atau kambing yang dipakai adalah 100-250 g/m2.



                                      



Media kultur juga harus dialiri air secara kontinu dengan debit yang kecil
                                         

C. PENEBARAN BIBIT DAN PEMELIHARAAN

Bibit yang akan ditebar dapat dicari di selokan tempat pembuangan limbah rumah tangga. Koloni cacing Tubifex dapat diambil dengan cangkul kecil. Pengambilan koloni cacing harus dilakukan dengan cara mengambil tanah tempat cacing itu hidup.
Sebelum bibit ditebar, air yang mengalir harus memiliki debit air yang kecil hingga air media terganti dalam waktu 30-35 menit dan sebaiknya dilakukan pengujian kualitas air sehingga dapat dipastikan air tidak mengandung amoniak yang berasal dari kotoran hewan (pupuk).
Penebaran bibit dilakukan dengan cara membuat lubang kecil di tanah dasar kolam atau media. Bibit dimasukkan bersama dengan tanahnya ke dalam lubang tersebut.
Cacing tubifex akan berkembang dengan pesat dalam media yang cocok setelah dipelihara selama 7-11 hari. Pertumbuhan cacing akan optimal apabila aliran air tetap terjaga sepanjang waktu.





Media kultur setelah diberi bibit cacing tubifex


Panen dilakukan setelah populasi cacing sutera atau tubifex melimpah atay setelah budidaya berlangsung 2 bulan dan berturut-turut setiap 2 minggu.
Cara pemanenan cacing sutera yaitu menggunakan serokan atau terilin. Cacing sutera yang didapat dan masih bercampur dengan media budidaya di masukkan ke dalam ember atau bak yang diisi air, kira-kira 1 cm diatas media budidaya agar cacing sutera naik ke permukaan media budidaya. Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 6 jam. setelah 6 jam, cacing sutera yang menggerombol diatas media diambil dengan tangan. Cacin tubifex yang sudah di panen dan dibersihkan siap dipakai untuk pakan benih ikan.



 
cacing tubifex yang sudah di panen dan dibersihkan, siap dipakai untuk pakan benih ikan









TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI

PENDAHULUAN

Ikan gurami merupakan ikan asli Asia Tenggara yang penyebarannya meliputi beberapa wilayah Indonesia seperti Pulau Jawa, Sumatra & Kalimantan. Pada habitat awalnya ikan ini merupakan asli sungai ataupun rawa, ikan gurami merupakan herbivora atau pemakan daun-daunan, dan termasuk ikan yang mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirint.
Ikan gurami terkenal dengan pertumbuhan yang lambat sehingga hal ini memberikan peluang bagi para pembudidaya untuk lebih mengembangkan cara budidaya yang baik, praktis dan efisien untuk mempercepat laju pertumbuhan ikan gurami. Kegiatan pemeliharaan ikan gurami terbagi atas segmentasi pemeliharaan yang panjang, mulai dari proses pemijahan yang menghasilkan telur hingga proses pendederan mencapai beberapa tahapan pendederan.

MORFOLOGI INDUK BETINA DAN INDUK JANTAN

URAIAN                              BETINA                                           JANTAN

Dahi                                 Tidak ada Penonjolan                        Ada Penonjolan

Dasar Sirip                       Gelap/Kehitaman                               Terang
Dada

Tutup Insang                     Putih Kecoklatan                               Kekuningan

Sirip Ekor                         Ujung sirip ekor                                 Ujung sirip tampak rata,
                                         tampak melengkung &                       bila ditidurkan bergerak-gerak
                                         tidak bergerak                                   ke atas

Induk Gurami Betina

Induk Gurami Jantan
 
PEMILIHAN INDUK SIAP PIJAH

Ciri-ciri induk jantan siap pijah adalah adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah yang tebal, dan tidak adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Warna tubuhnya memerah berbintik hitam terang dengan perut membentuk sudut tumpul, bila bagian perut ditekan akan mengeluarkan sperma berwarna putih. Sedangkan induk betina yang siap pijah ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawah tipis, dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Warna tubuh lebih terang dan bentuk perutnya besar bulat, bila bagian perut ditekan kearah kelamin akan mengeluarkan telur berwarna putih.

PEMIJAHAN

Induk yang sudah matang gonad siap untuk ditebarkan di kolam pemijahan. Kolam pemijahan merupakan kolam khusus yang ukurannya tergantung jumlah induk yang dimiliki, ukuran minimumya 20 m2 dan maksimum dapat mencapai 1000 m2 dengan kedalaman ideal 0,8 m - 1,5 m. Kolam induk sebaiknya dekat dengan kolam pemijahan sehingga memudahkan proses pemindahan induk ikan. Padat tebar induk ikan gurami diusahakan 1 ekor induk ikan yang bobotnya 3-5 kg per ekor sebaiknya memiliki areal untuk bergerak bebas seluas 5 m2. Penebaran induk dilakukan dengan perbandingan 1 ekor jantan yang bobotnya mencapai 3-5 kg dan 3 ekor betina yang bobotnya minimal 3 kg.
Proses pemijahan biasanya akan berlangsung yang diawali 1 minggu pertama induk jantan telah memulai membuat sarang, lamanya membuat sarang lebih kurang 6 hari kemudian induk betina yang sudah siap pijah memiliki naluri akan segera berpijah setelah sarangya siap, terjadinya proses pemijahan selama 2-3 hari, induk betina segera mengeluarkan telur-telurnya dan secara bersamaan pula induk jantan menyemprotkan sperma dan terjadi proses pembuahan telur oleh sperma jantan. Proses perkawinan akan diakhiri apabila jantan telah menutup sarang, dengan ijuk atau sejenisnya. Keberhasilan proses pemijahan dapat diamati pula dengan melihat pemukaan kolam yang ada sarang guraminya terlihat keluar banyak minyak dipermukaan air dan tecium bau amis.

PENETASAN TELUR

Pengambilan sarang yang berisi telur dilakukan secara berhati-hati dengan cara memegang sisi luar bagian paling bawah sarang dan sebaiknya sarang tidak diangkat begitu saja, tetapi menggunakan wadah berupa ember atau baskom yang berisi air dan diberi Metheline Blue dengan perbandingan 5 cc obat untuk 5 liter air. Selanjutnya sarang dan ember tersebut dibawa ke tempat penetasan.
Penetasan dapat dilakukan di dalam paso atau baskom maupun di dalam akuarium. Air di dalam baskom atau akuarium diberi aerasi atau supplay oksigen dan setiap hari dilakukan pengambilan telur-telur yang tidak menetas atau berjamur supaya tidak menular ke telur yang sehat. Biasanya telur gurami akan menetas setelah 36-41 jam.

PEMELIHARAAN LARVA

Setelah telur menetas, larva dapat dipelihara dalam paso atau baskom selama 8-10 hari sampai kuning telur habis. Bila penetasan dilakukan di dalam akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan di akuarium, penggantian air perlu dilakukan untuk membersihkan air dari minyak yang dihasilkan saat penetasan. Suhu dipertahankan pada kisaran 29-30 derajat celcius.
Pemindahan larva dari lokasi penetasan ke lokasi pembesaran / pendederan dapat dilakukan dengan menggunakan baskom atau ember. Larva dimasukkan ke dalam ember bersama air dari tempat penetasan sehingga larva tidak stres. Sebaiknya pemindahan ke kolam atau tempat pendederan dilakukan pada pagi atau sore hari dimana pebedaan suhu antara air media penetasan dan air media pendederan atau kolam tidak begitu mencolok.

PEMBERIAN PAKAN

Pakan mulai diberikan setelah larva berumur 8-10 hari atau setelah kuning telur habis. Pakan yang diberikan adalah pakan alami yang bisa berupa artemia, kutu air berupa daphina atau moina, cacing sutera. Jenis pakan yang diberikan ini disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Frekuensi pemberian sebanyak 4-5 kali sehari.
Untuk larva yang dipelihara di akuarium, pemberian pakan dapat diberikan sebanyak 2 sendok makan untuk 1000 ekor larva setiap pemberian. Ketika sudah semakin besar, kepadatan larva dalam satu akuarium dapat dikurangi. Larva yang dipelihara dalam akuarium selanjutnya dipelihara hingga menjadi benih yang siap ditebarkan ke kolam pemeliharaan benih.

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI DALAM USAHA PEMBENIHAN IKAN GURAMI

Berikut ini beberapa permasalahan yang sering ditemui dalam usaha pembenihan ikan gurami :

1. Induk Malas Memijah
    Induk gurami yang telah matang gonad kadang-kadang tidak mau memijah. Hal ini sebagian besar diakibatkan karena kondisi lingkungan kolan yang tidak nyaman bagi indukan atau indukan belum benar-benar matang gonad. Cara mengatasinya adalah dengan memijahkan induk yang benar-benar telah matang gonad dan kolam pemijahan jangan terlalu padat, cukup 40 ekor/1000 m2 atau bisa juga dengan perbandingan 3 betina : 1 jantan untuk kolam dengan ukuran 4m x 3m.

2. Jumlah Telur Sedikit
    Hal ini bisa disebabkan oleh umur induk yang terlalu muda. Untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan induk jantan yang  telah berumur 4 tahun dan induk betina yang berumur 3 tahun.

3. Telur Tidak Menetas
    Telur yang tidak menetas bisa disebabkan oleh kualitas induk yang kurang bagus dan penanganan sarang yang salah sehingga telur mati. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan induk yang kualitasnya benar-benar memenuhi syarat sehingga telur yang dihasilkan bagus mutunya dan tidak mengangkat baskom atau ember begitu saja akan tetapi sarang diangkat bersama dengan air kolam pemijahan agar telur tidak terkontaminasi dengan udara luar.

4. Tubuh Benih Berwarna Hitam
    Kondisi ini disebabkan oleh gangguan velvet yang menyebabkan kulit benih menjadi berwarna gelap dan berlendir. Pemicunya adalah karena suhu air penetasan terlalu rendah. Hal ini dapat diatasi dengan pemasangan pemanas atau heater untuk menjaga suhu air media penetasan tetap pada kisaran yang sesuai.


Untuk konsultasi teknis dapat menghubungi :

BALAI PERBENIHAN DAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR MUNTILAN
JL. KERKOP NO. 1 MUNTILAN MAGELANG

TELP. (0293) 587022

E-MAIL : balaimuntilan@yahoo.co.id 

                                        
                     

Short Hairstyles for Men Pictures 07

Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pibtures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures

Short Hairstyles for Men Pictures 06

Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures

Short Hairstyles for Men Pictures 05

Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures
Short Hairstyles for Men
Short Hairstyles for Men Pictures